Senjakala di Ufuk Barat
Senyuman yang dihadirkan untuk menenteramkan orang yang ditemuinya, tak terkecuali aku. Aku tak mengenal namanya, ataupun dimana ia mempunyai rumah untuk berteduh. Seringkali aku melihatĀ ia melamun sambil menghisap dalam- dalam lintingan tembakau berasap teba, aku jadi ingin tahu apa gerangan yang dipikirkan kakek paruh baya yang aku temui ini.
Pagi itu aku melihat beliau sedang dipantai, memikul barang yang aku tidak tahu apa itu. Terlihat keringat membasahi bajunya, seolah sengaja memperlihatkan keriput tua di wajah kakek yang selalu tersenyum pada orang yang melaluinya dengan diam.
Berat dan capek tentunya berjalan menyusuri pantai sambil membawa barang itu, dipinggiran warung kecil pinggir pantai kakek terlelap tanpa alas apapun.
Kira- kira hampir 1 jam kakek terlelap, waktu itu pukul 13.00. Keadaan pantai cukuplah terik. Kakek mencari tempat di sekitar warung- warung kecil, dan mulai membuka barang- barang yang dibawanya. Ia pun menggelar tikar dan lainnya, mulailah ia menjual sepatu- sepatu yang tidak kelihatan baru, malah sebagian kotor oleh debu.
Sambil menunggu jualannya, kakek menyalakan linting tembakaunya. Seakan menikmati asap yang keluar, kakek memejamkan mata, menghisap linting tembakau dan menikmati angin pantai yang menyejukkan saat panas terik begini.
Pukul 15.00 terlihat 2 anak kecil berlari- lari sambil membawa adik bayi mereka, menuju tempat kakek berdiam diri di depan sepatu- sepatunya. Mereka berteriak- teriak memanggil nama sang kakek, tapi aku tidak bisa mendengarnya, karena suara ombak buru- buru menelan suara mereka yg merdu.
Mereka mencium tangan tangan kakek, kakekpun segera menggendong adik bayi mereka. Bersenda gurau dan memberikan isyarat- isyarat tangan seolah bercerita dengan sungguh- sungguh untuk menghibur mereka.
Hampir sore hari, sang kakek kembali sendiri menghadapi sepatu- sepatunya. Ashar pun terkumandang oleh suara adzan, akupun turut serta mengikuti suara adzan, menuju mushola. Sambil menunggu jama`ah lainnya, aku melihat kakek berdo`a dengan khusyuk. Suara do`anya lirih, dan penuh dengan kesungguhan. Aku sadar, apakah diriku begitu ?? Saat itu aku malu, apa yang kulakukan selama ini, masih kurang bila dibandingkan dengan karuniaNya terhadapku. Aku terhenyak saat iqomah terdengar, tanpa kusadari kakek menyentuh pundakku, dan berkata. “Ayo dik, mari berjama`ah dengan kami”. Aku pun segera berdiri dan mengikuti soft didepanku. Dan kami pun mendirikan sholat berjama`ah
Selesai sholat, aku segera kembali ketempatku sebelumnya, kembali memperhatikan apa yang dilakukan kakek selanjutnya.
Ia membuka lembaran- lembaran koran yang diambil dari mushola, membacanya sambil bibirnya yang biru bergetar- getar, seoalah apa yang dibacanya, merupakan kejadian yang jarang ia temui ataupun ia lakoni.
Ada seseorang dari kejauhan membawa seekor ayam jantan, aku mengira ayam itu akan dimasukkan kandang, karena senja sudah mulai turun. Umurnya mungkin hampir sama dengan kakek, tapi kelihatan lebih kekar karena ia tidak memakai baju. Dibawanya ayam jantan itu ke tempat kakek.
Kelihatannya kakek itu mau menjual ayamnya, dan kakek pun juga setuju dengan harga yang ditawarkan. Sambil melihat- lihat tubuh maupun bulunya. Mereka bersenda gurau, sambil menghisap linting tembakau, dan menikmati dalam- dalam nikotin dari tembakau itu. Seolah hanya itulah hiburan yang mampu menemani mereka.
Senja meremang, setelah mengemasi barang dagangannya dan sekarang ditambah seekor ayam jantan. Kakek menyusuri jalan setapak berbatu, letih kelihatannya. Sambil bergumam lirih pada ayam jantannya. Kakek menikmati perjalanan pulangnya sambil menghisap sisa- sisa linting tembakaunya.
TULISAN INI, AKU TUJUKAN UNTUK AYAH SEKALIGUS KAKEK KU
SAAT- SAAT AKU MASIH KECIL
SAAT- SAAT AKU MENGENANG DALAM KEBERSAMAAN
SUNGGUH AKU TAK TAHU KAPAN HARI ITU AKAN TERULANG
Daryn

Tinggalkan Balasan